KETIKA ROFA' SUMBER KEHIDUPAN


Oleh : Moh. Ali Utsman
Kali ini penulis akan memaparkan tentang falsafah kehidupan yang telah diberikan kaidah Nahwu dalam bab Alamatul I’rab kepada ummat manusia. Berikut ini ikutilah semua wasiat ilmu Nahwu agar hidup kita menjadi sempurna. “Dengan bersatu kita akan terhormat”. Siapakah orang-orang terhormat Versi kitab nahwu ? yaitu,  Fa’il, Naibul Fa’il, Mubtada’, Khobar, Isimnya Kana, Khabarnya Inna, Tawabi’ lil Marfu’ (sesuatu yang mengikuti pada kalimat yang marfu’), seperti sifat (naat) Athaf, Taukid, Badal, Serta Hal, ini dapat dijelaskan sebai berikut.
"الرفع بالضم" Rofa’ itu dengan dhamma dalam ilmu nahwu. Dhamma adalah salah satu diantara tanda-tanda i’rob rofa’. Secara harfiyah kata dhamma bermakna berkumpul atau bersatu, sedangkan rofa, bererti tinggi atau terhormat Sehingga artinya derajat yang tinggi dapat  diperoleh  dengan persatuanatau. Maksudnya bila kita dapat menjaga kesatuan dan persatuan, bukan tidak mungkin drajat kita akan diangkat (rofa’) oleh Allah Swt. Perihal itu telah diperintahkan oleh nabi Muhammad Saw. “tetaplah kalian kalian dalam persatuan, barang siapa yang berpaling maka sesungguhnya dia berpaling menuju neraka”.
Amat banyak hadist maupun Al-quran yang menyinggung jaminan derajat yang tinggi pada manusia yang senantiasa menjaga melestarikan kesatuan dan persatuan, takluput ilmu nahwu. Dalam ilmu nahwu ada beberapakeriteria sehingga orang (muslim) terjamin mendapatkan derajat yang tinggi (rofa’) bahkan wajib.Yaitu Fa’il, Naibul fa’il, mubtada’, khabar, dan tawabi’ lil marrfu’ (sesuatu yang mengikutu kalimat  sebelumnya) seperti naat, athaf taukid dan badal. Hal ini dapat dirasionalisionalkan sebagai berikut.
Fai’il (pelaku), bila kita ingin menjadi orang yang tinggi (mulya) hendaklah kita berbuat atau berusaha. Sepertihalnya fa’il, berusaha dan bekerja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tidak terpaku pada tangan saja atau hanya meminta, sebab hanya orang yang aktid lah (fa’il) yang membuat karya nyata serta amal yang menjadikan dirinya tinggi dan terhormat di lingkungannya.
Naibul fa’il (pengganti dari fa’il) dengan artian mewakii tugas-tugas aktifitas fa’il. Dia adalah orang-orang yang juga mendapat derajat tinggi pula. Dia hanya berkedudukan sebagai wakil, tapi ia juga pelaksana dari apa yang fa’ilperbuat. Ingatkah tentang ceriita sayyidina Abu Bakar yang di suruh menjadi penggantikan posisi beliau nabi muhammad Saw untuk menjadi imam shalat tatkala nabi berhalangan. Menggantikan nabi menjadi pemimpin muslimin dalam urusan Akhirat yaitu shalat, sehingga ia di hormati pula. Bahkan hal itu berlanjut pada waktu baginda wafat.
Mubtada’(Permulaan). Dengan artian garda terdepan dalaf hal yang positif. Orang yang adadi garda ter depan, mewujudkan gerakan baik fisik atau nonfisik,orang inilah pantas sebagai orang yang mendapatkan derajat (rofa’) yang tinggi pula. Bukankah Rasulullah Saw. Memberi petunjuk akan hal tersebut dan ia bersabda “Barang siapa yang memulai sunnah hasanah maka baginya pahala, dan pahala orang yang melakukannya” dengan baik dan tidak semua pelaku (fa’il) merupakan orang yang pertama.
Khobar (informasi), masih ingatkah tentaang perkataan Sayyidina Umar bin Khattab RA. “Ilmu, seandainya aku tahu tentangnya maka aku akan kabarkan padamu, jika dirimu yang tahu maka kabarkanlah pada ku”. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Sayyidina Umar menekankan kita agar saling berbagi informasi (Al-khabar), beliau dikenal dengan nahi munkarnya yang tiada batas. Secara teori perkataan beliau diatas dapat di justifikasikan akan pentingnya sebuah informasi yaitu kabar tentang ilmu bukan yang lain, hal inidapat di buktikan dan ditunjukkan oleh huruf “Al”  pada kata الخبر yang disebut Al  lil’ahdzi dzihni. Itulah orang yang juga berhak atas rofa’ (Derajat yang tinggi)
Isimnya kana (كان), katakanalah كَانَ زَيْدٌ عَالِمًا, lafadz زيد merupakan isimnya kana yang pada hakikatnya adalah aktifis (fa’il fil ma’na) atau mubtada’ fil asli sehingga amat pentas menerima pentas menerima penghormatan (rofa’) sebagai keterangan di atas.
Kobarnya inna (إن), lihatlah pada pembahasan di atas   katakanlah lafadz إِنَّ زَيْدًا عَالِمٌ lafadaz aliman merupakan khabarnya inna ia menyandung rofa’ (derajat yang tinggi) sebab secara rasional ia meupakan rukun atau juz dari sebuah informasi, karena itulah ia patas menyandung derajat yang tinggi.
Tawabi’ Lil Marfu’ (mengikuti kalimat sebelumnya), dengan artian mereka yang mengikuti jejeak langkah orang tinggi derajatnya (rofa’) serta terhormat maka ia juga akan mendapatkan kehormatan pula.

Komentar

Posting Komentar