MEROSOTNYA MORAL MASYARAKAT MADURA
Oleh: Kusairi ADH
Berbagai problematika kini dihadapi pulau Madura. Mulai
dari kasus suap menyuap, kemiskinan, maraknya pesta sabu-sabu, moralitas anak-anak,
diskriminalisasi pergaulan, pelecehan seksual, mutu pendidikan, hingga sederet permasalah
kecil yang tidak terdeteksi dengan panca indra.
Semua menjadi sajian yang ironis di tengah rutinitas
masyarakat kita yang berdinamika dalam perputaran waktu. Maka jangan heran jika
muncul opini-opini permisif ditengah masyarakat kita. Termasuk persoalan
dekadensi moral anak bangsa, yang menjadi akar permasalahan runtuhnya akhlak. dekadensi
moral adalah masalah besar yang menggerogoti tubuh pulau ini . Ibarat virus
yang ganas yang menghilangkan kekebalan tubuh. Lunturnya nilai-nilai agama dan
kurangnya perhatian orang tua menjadi sebab dari berbagai sebab yang ikut
menyeret bangsa ini dalam kubang kuburan kemiskinan akhlak budi pekerti.
Tidak terasa budaya barat
teraktualisasi dengan mudah, seperti mudahnya Islam masuk ke Indonesia. Dengan
lambat laun, Budaya pergaulan sehari-hari tanpa malu dan canggung tumbuh secara
subur. Alam remang-remang yang di penuhi dengan fantasi-fantasi liar tak ubahnya
kaum jahiliyah dahulu. Narkoba, seks bebas, orkestran dimana mana, sehingga
melahirkan generasi yang miskin ilmu dan miskin akhlak.
Pengaruh bangsa barat-pun jauh lebih
di khawatirkan. Mushtofa al-Ghalayaini dalam karya fenomentalnya “Idhotun Nasi’in” sudah mengulas akan pengaruh besarnya
hedonisme bangsa barat. Dengan cuatan opinnya “bangsa barat telah mencubit-cubit
masyarakat dengan taring kapitalismenya”. Imbas dari hedonisme itu dipandang
tragis, mulai dari masyarakat yang enggan untuk ‘uzlah (mengasingkan
diri), mujalasah tarbiyah, hingga gaya hiduh berlebihan.
Heran, dipulau madura ini semuanya elit, baik masyarakat
kecil maupun pemerintah. Semuanya berlomba berlomba-lomba menyuntik dana
perbaikan destinasi wisata. Memberikan wadah anak bangsa untuk berhidup
hedonisme ala kaum barat. Memberikan peluang anak-anak bangsa untuk berbuat
asusila, memberikan ruang anak-anak bangsa untuk mementingkan hiburan daripada
belajar. tak ubahnya ajang pencarian bakat, Secara bergantian kian
menerus.
Madura memang sketsa mini yang
menggambarkan pola kehidupan bangsa ini. Pulau yang jauh dari bau pergaulan
bebas. Ketika pulau ini sudah parah, maka di khawatirkan kota yang lain lebih
parah lagi. Kemerosotan moral anak pulau Madura ini tak jauh karena kesalahan
peran orang tua dalam menempatkan posisinya. Hal ini terbukti dengan kesalahannnya dalam mendidik anak. Sebagaimana hal berikut:
1. Menumbuhkan
Rasa Takut dan Minder Pada Anak
Tindakan menakuti-nakuti,
menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah akan
menyebabkan psikologi anak semakin kaku, dan akan terbiasa menjadi takut
apabila melihat orang keras dan orang yang besar. Dan yang
paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya
sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di
wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan
menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut.
2.
Mendidiknya
Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain.
Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang
lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang
sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya, takut berbohong karena
ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut
kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan
tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.
3.
Membiasakan
Anak-Anak Hidup Berfoya-Foya, Bermewah-Mewah Dan Sombong
Dengan kebiasaan ini, anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan,
suka bersenang-senang, hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang
lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap Istiqamah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakan muru’ah (harga diri) dan kebenaran.
4.
Selalu
Memenuhi Permintaan Anak.
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi semua yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik
dan buruknya. Padahal, tidak semua yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau
sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala
permintaannya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada
nilai uang dan beratnya mencari nafkah.
5.
Terlalu
Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya, dengan memukul mereka hingga memar,
memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi, ketika sang anak sengaja
berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.
6.
Terlalu
Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran.
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada
anaknya, hingga anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Sampai akhirnya, mendorong mereka untuk mencari uang sendiri dengan berbagai
cara. Misalnya, dengan
mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah
lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anak-anaknya ke panti asuhan untuk
mengurangi bebannya.
Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai
hidupnya.
7. Kurangnya
perhatian dan kasih sayang
Bisa karena kurang
pengawasan langsung atau karena ditinggal merantau oleh orang tuanya. Seorang
anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya, ia akan mencari perhatian dari laki-laki di luar
lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki
itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan
kehormatannya demi cintanya.
8.
Hanya
Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira bahwa mereka
telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah
memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang
bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk
mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang
tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan
perhatian dan kasih sayang.
Bila kasih sayang tidak didapatkan di
rumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.
9.
Terlalu
Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada
anaknya. Menyangka, bila anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang
dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal
teman-teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada
anaknya. Ketika tiba-tiba,
mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena
narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta
segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa adalah penyesalan tak berguna.
Sudah seharusnya peran orang tua terhadap anak itu sangat
penting untuk terbentuknya sosial, akhlak, etika, hingga kekebalan mentalnya.
Hingga akhirnya akan melahirkan generasi yang shalih bahkan mushlih. Dari ini
kita sebagai orang tua seyogianya memperhatikan betul langkah dari mereka biar
tidak terperangkap dalam lingkaran budaya buruknya narkoba, pergaulan bebas,
dan seksual.
