PAS-PASAN Atau BERLEBIH-LEBIHAN (Rubrik Ngaji Hikam Buletin Minhaj Edisi 25)




  
من تمام النعمة عليك أن يرزقك ما يكفيك من غير زيادة ولا نقصان ويمنعك مايطغيك

( Termasuk diantara sempurnanya nikmat Allah adalah memberikan hal yang pas [tanpa menambah dan mengurangi] dan mencegah terjerumus pada melewati batas )

Sudah menjadi Tabiat yang melekat pada diri manusia akan kecintaannya pada hal-hal yang Bernuansa duniawi, mereka mengira bahwa dirinya akan hidup kekal di dunia yang fana, pun juga mereka beranggapan banyak harta, banyak istri, adalah kenikmatan yang sesungguhnya.
Memang bukan hal mencengangkan, sebab Nabi Muhammad SAW, dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Dan Anas Ibnu malik RA, Beliau bersabda;
"لوْ أنَّ لابْنِ آدَمَ وادياً مِنْ ذهبٍ؛ أحبَّ أنْ يكونَ لهُ وادِيانِ، ولنْ يَمْلأَ فاهُ إلا التُّرابُ، ويتُوبُ اللهُ على منْ تابَ"
Artinya;” Seandainya anak adam mempunyai satu lembah berisi emas, dia lebih senang lagi untuk mempunyai dua lembah emas,dan mulutnya tidak terpenuhi kecuali debu. Dan Allah Dzat yang Menerima taubat hambanya yang bertaubat.”
Hadist diatas mejelaskan kecintaan bani adam pada dunia dan harta. Namun harta benda bukanlah segalanya dalam kehidupan ini, pun juga banyak harta dan sesuatu yang bersifat kenikmatan dunia bukanlah kenikmatan yang sesunggguhnya. Banyak harta belum tentu kita merasakan kebahagian dzahir batin, dan banyak harta bukan jaminan bahagia di Akhirat nanti, bahkan tak jarang harta benda justru membuat pemiliknya sengsara di akhirat kelak.
Imam ibnu Athaillah As-sakandari menyebutkan dalam kitab Hikamnya, nikmat yang sempurna bukanlah banyak harta, banyak mobil, dan banyak istri melainkan kenikmatan yang sempurna adalah karunia yang pas yang diberikan Allah pada hambanya dan mencegah hambanya dari terjerumus pada melebihi batas. Itulah termasuk diantara kenikmatan yang sempurna.
Manusia yang beranggapan harta adalah segalanya itu salah dan ini terbukti banyak orang kaya dan banyak orang yang bergelimang harta nyatanya kehidupan yang mereka jalani penuh dengan lika liku dan tidak bahagia lahir batin bahkan terkadang banyak orang yang diperbudak oleh hartanya sendiri. Banyak kita jumpai di sekitar kita kejadian yang semacam ini, petinggi petinggi kita bahkan mayoritas mengalami hal ini.
Terjadinya korupsi dan suap itu disebabkan kurangnya pemahaman akan arti kenikmatan yang sesungguhnya dan juga kurangnya pemahaman akan alokasi harta yang kita miliki. Orang yang kaya tidak mengerti mau dikemanakan kekayaannya sehingga mereka sewenang wenang menggunakan hartanya pada hal yang batil demi memuaskan hawa nafsunya, contoh kecilnya suap . Orang miskin tidak faham bahwa kehidupan yang ia jalani adalah sebaik baiknya nikmat yang di berikan Allah Karena Allah memberikan pada hambanya perkara yang pas Akan kehidupan yang ia jalani. Bukan malah mengaggap Allah tidak Adil, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Mulai dari yang paling kecil sampai yang besar. Contoh kecilnya Korupsi dan mencuri.
Dalam Hadistnya Rasulullah SAW, bersabda Yang Artinya; “Perkara yang sedikit namun mencukupi(pas) itu lebih baik daripada banyak namun membuat lupa(kepada Allah).”
Hadis ini mengindikasikan bahwa harta yang sedikit namun dapat mencukupi dan pas akan kehidupannya itu lebih baik dari pada banyak harta namun membuat orang tersebut lupa akan sang pencipta dan salah dalam menggunakan harta bendanya.
            Dalam kajiannya, RKH. Moh. Thohir Zain Menyampaikan “orang yang tidak punya uang janganlah bersedih dan jangan kecil hati, syukuri dan jalani itulah yang terbaik. Kerena kalau kita kaya lebih besar potensi kita untuk melewati batas dan sombong” dari sini kita fahami bahwa di dalam menjalani kehidupan yang fana ini kita dituntut untuk selalu bersyukur dan menerima apa adanya karena itulah yang termasuk nikmat yang sempurna lagi sesuai dengan kadar kemampuan kita.
            Tentu bukan hal yang mudah, memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan ini namun, setidaknya kita bisa berfikir akan ketidak adanya jaminan orang itu bisa bahagia dunia akhirat hanya dengan banyaknya harta yang ia miliki. Maka dari itu kita sebagai hamba sahaya disisiNya harus selalu bersyukur dan mengerti akan kenikmatan Yang Allah berikan pada kita Bukan hanya sekedar kabahagiaan dunia Semata Melainkan Kenikmatan yang sesuai dengan kadar kita dan kebahagian di Akhirat nanti.
            Alm, RKH. Ahmad Mahfud Zayyadi Pernah Berdauh “ Mon nyareh bhinih cek tin rattin gelluh Tako’ ekalak tatanggheh, ben cek nyareh se Chubhe’ gelluh takok ngalak’an di Tatanggheh”(Madura.red). yang bisa kita tangkap dari dauh beliau adalah dalam dunia ini kita dituntut mencari yang pas dan sesuai dengan kita. (Redaksi)