SUAP NASIONALISME (Judul Buletin Minhaj Edisi 25)




Oleh: Ahmad Fauzan Syakir (PimRed Buletin Minhaj Edisi 25)

Manusia, sosok yang memang dalam spectum global menginginkan kehidupan yang ideal. Khususnya zaman yang seperti yang kita rasakan saat ini (modern), ingin mempermudah diri dalam segala aspek kehidupan. Ingin semua urusannya cepat terealisasikan tanapa membuang-buang waktu dan tenaga, demi mendapatkan kemudahan yang membawanya ia bahagia, hidup yang memberikan warna dan kenyamanan, serta kesejahteraan. Terkadang orang cenderung menjalankan praktek yang sebetulnya syariat telah melarangnya.
Demi mewujudkan impian yang ia inginkan justru tekadang menghalalkan segala cara. Kehidupan manusia dipengaruhi dengan persaingan bebas, serba instan, gaya hidup serba mewah sehingga membuatnya ia  terjerumus akan jurang kedzaliman. Dan itu menjadi ciri utama masyarakat masa kini sehingga luapa akan etika, dan estetika islam yang seharusnya dijadikan pegangan dalam menjalankan kewjiban sebagai khalifah di muka bumi ini. Sayang seribu sayang, pesatnya teknologi dan peradaban zaman justru di ikuti dengan merosotnya akhlak manusia yang semakin memprihatinkan.
Ketika negeri sudah kehilanga panutan, kerisis keteladanan, seakan mata angin tak kenal arah, bertumpu dalam satu titik yaitu bingung dalam menentukan arah yang mana seharusnya ia tatah, sehingga menjadikan pribadi seseoang darurat pendidikan. Terbentuknya pribadi baik tidak lepas dari seberapa besar keteladanan mampu menjadikan diri seseorang bangkit dari keterpurukan bukan malah sebaliknya. Tentu dengan adanya suport pendidkan pula keperibadian menjadi kokoh, masa depanpun lebih terarah.  Begitulah ungkapan yang seharusnya kita ungkapkan, kerena hanyalah pendidikan yang mampu menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan negeri tak mungkin bertahan.
Akhir-akhir ini praktek suap  marak seakan menjadi-jadi, tanppa mengenal waktu pagi dan silih berganti. Sungguh ironis ketika suap sudah dianggap perkara wajar, hal biasa,  beranggapan bahwa itu adalah hadiah ketika sudah dianggap kompensasi atas jerih payah yang ia lakukan, seolah-olah  dianggap sebagai rizqi atas kasab (mencari nafkah) yang ia tekuni.  Apalagi ketika peradilan berubah menjadi ladang, tergantung seberapa subur ladang yang ia miliki. hukumpun susah untuk di putuskan, sebab  hukum telah di perjual belikan. Bukan kah hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap.
Kita sudah tahu,  Al-Riswah (suap)  adalah kejahatan yang luar biasa, tindakan yang merampas hak kebenaran, menjangkit siapapun berkepanjangan, membungkam keadan karena tebaran ketakutan, di buat bisu oleh rentetan ancaman sehingga tak sedikit pun hal ini uasai yang lamanya seperti tak kesudahan. Moral manusiapun semakin memprihatinkan ketika pengetahuain sudah dihiraukan. Bukan kah syariat sudah memberi tahu akan kemaksiatan  yang mendorong siksaan menyakitkan. Tapi kenapa tidak sedikit pun memikirkan kerugian ukhrawi bahkan meremehkan seperti makan yang tak pernah kekenyangan, dan lupa akan hidup adalah Darul Mihan, di manana tempet kita dalam mempersiapkan diri menuju kehidupan yang betul-betul kehidupan. Pengistimewaan penyuap lantas mengundang amarah,  menghina akal sehat ketika hukum sudah menjadi mewah, membuat hukum seperti tak lagi mempunyai marwah.
 Untuk meminimalisir peraktek suap yang sudah terlanjur, kembalilah pada syari’at (ajaran islam) untuk dijadikan tolak ukur, tanpa melupakan peran aktif kita dalam mewujudkan perubahan, yaitu Ibda’ Binafsika. Mulailah dari diri sendiri dan berani berkata “tidak pada paraktek suap”. Tanamkan sifat Haya’ (malu). Karena malu sebagian dari iman. Tanamkan sifat Qana’ah (merasa cukup atas nikmat Allah). Karena dengan sifat qana’ah akan mengingatkan kita dalam bersyukur, dan akan marasakan manisnya iman. Dengan sifat qana’ah pula menjadikan diri kita memiliki kehormatan di sisi Allah Swt. Tidak kalah pentingnya, selalu siap mengikuti tapak tilas orang-orang yang memiliki komitmen dan istiqamah dalam menegakkan amar makruf nahi munkar, bukan sekedar mengikuti tapak tilas yang tak memiliki akar. Ikutilah orang  kerena dia benar. Bukan hanya mengikuti kebenaran karena orang. Kenalilah kebenaran suatu saat akan datang kebenaran yang hakiki. Karena  allah Swt tidak melihat seberapa banyak amal yang mereka perbuat, tapi Allah Swt melihat seberapa baik amal yang mereka perbuat.